Karena tampangku yang mirip keling, teman-temanku memanggil aku Pele, karena aku suka main sepakbola.Tapi sekalipun aku jelek dan hitam, otakku cukup encer. Bokep Berlainan betul dengan adik-adik dan ibumu”, kata Tante Ratih selagi dia menyendok nasi ke piring. Ya pantaslah, karena cantik dan dikejar-kejar banyak pemuda, bahkan orang berumur juga, dia jadi sombong, mentang-mentang. “Kok tidak kamu habiskan Dit?” tanyanya. Aku bobol lagi. Karena Tante Ratih itu putih. Karena itu perlu juga latihan lari marathon. Kupandang Tante Ratih yang tergolek miring disampingku. Apa yang mesti kuserang dulu, karena semuanya menggiurkan. Semuanya putih mulus mirip artis filem Jepang.Semula aku ragu bagaimana memulainya. “Nanti Tante kendorin”. Kalau hitam tentu bisa gempar.




















