Nyatanya ia sudah selesai.Aku berbaring lama sambil berpikir. Eh, sialan, saya memang kurang dianggap, disangkanya saya anak kecil atau apa.Aku berbisik ke Duren (yang lebih dekat denganku) bahwa saya serius ingin main. Bokepid saya sempat meneleponnya waktu transit di Changi untuk menyatakan kerinduanku.Tetapi, perasaan galauku lenyap begitu saya melihat Mama menjemputku di bandara Cengkareng. Duren tak pernah punya kekasih selulus SMA, kadang- kadang untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, ia berhubungan dengan perempuan bayaran di Saritem. gerahnya kota ini. Kami senang sekali menggodanya & “menodong” makanan di kamarnya.Well, masih banyak lagi tenant-tenant (pria atau wanita) yang lucu atau “bagus”, tetapi umumnya sudah punya pasangan. Ya sudah deh, saya mengalah, habis anak Mama sih.Akhirnya saya dapat mobil Honda Civic, yang kalau tak salah nama resmi Indonesianya “Genio”.




















