Aku hanya terdiam mendengar penjelasannya, sambil tersenyum lembut menatapnya. Bokepid Ananda datang bersama kedua orang tuanya untuk menikmati makam malam di salah satu cafe yang cukup terkenal di kota itu. Malam itu Ananda mengenakan gaun warna hitam yang membuat penampilannya sangat berbeda dengan saat dia ada di kampus. “Maaf.. “Tangan atau, kamu yang terpesona oleh kecantikannya” sindir Dina. Taxi yang kita tumpangi melintasi sebuah jalan yang lampu penerang jalannya agak redup. “Baik Om.. “Boleh-boleh… Lagian aku sendirian kok” sahuntuku meyakinkan. “Maksud kamu?”tanya Ananda lagi. Di kepala masih teringat saat aku memperkenalkan diri di hadapan Papa dan Mamanya, ketika break time tadi yang Ananda bilang pernah menceritakan aku sebelumnya. Kamu Din..!” ujarku spontan. “Diet kenapa diam?” tanya Ananda membuyarkan lamunanku.




















