Jadi semakin menjadi-jadilah diriku menghabiskan waktu mengurus bisnis karena belum ada urusan lain yang memerlukan perhatianku. Kudekati dia ketika mulai terisak-isak meneteskan air mata, ingin kutenangkan hatinya. Bokep Karmin akhirnya jebol juga pertahanannya. Dia mengangguk.“Maafkan isteriku yah”Entah kenapa tiba-tiba mata kami bertatapan kembali. Mulai melenguh. Oohh.. Sulit kudefinisikan. Ataukah lagi mematut diri di cermin. Paakkh.. Wah.. Ukuran rumahku cukup besar dengan masih ditambah tanah yang lumayan luas yang kubuat menjadi taman hampir mengelilingi bangunan rumah kecuali sisi kiri karena kepotong kamar-kamar pembantu dan jalan samping. Ahh.. Sengaja kali ini aku tidak memberitahu agar lebih dahsyat pekikan-pekikan kangen isteriku itu. Selama ini dia tidak berani menatapku.




















