Kudekati dia ketika mulai terisak-isak meneteskan air mata, ingin kutenangkan hatinya. Bokepid Celanaku masih padat mnggembung tak terkira. Memang besar miliknya. Mulai melenguh. Rambutnya otomatis megenai hidungku. Berkecipak suara kuluman kami. Jelas salah satu sosoknya adalah istriku, mana mungkin aku pangling. Ukuran rumahku cukup besar dengan masih ditambah tanah yang lumayan luas yang kubuat menjadi taman hampir mengelilingi bangunan rumah kecuali sisi kiri karena kepotong kamar-kamar pembantu dan jalan samping. Toh ibaratnya kami seperti tukar pasangan. Teruss.. Semakin erat dia mendesakkan tubuhnya ke diriku. Kubuka bagian dada dari kebayanya. istriku licin sekali. istriku licin sekali. Mungkin kejadian tadi telah berulang kali berlangsung selama aku tidak di rumah.“Sudah sering kejadiannya Mbok?” tanyaku. istriku licin sekali.




















