Singkat cerita, mereka mengobrak-abrik rumah saya untuk menemukan Dian, sementara si hitam mengikat saya di kursi agar tidak melawan. Bokepid Cambukan demi cambukan menghajar pantat Dian, meninggalkan garis-garis merah. Nampaknya semuanay ini sudah mereka rencanakan.“Akhirnya kita dapet amoy sombong ini! Dian pun menjerit kesakitan. Si preman melirik foto keluarga saya di atas meja.“Boleh, utang lo gua potong setengah, tapi anak gadis lo yang gede buat gua!” ujar si preman yang berkulit hitam.“Jangan! Si Kumis yang daritadi hanya menonton pun mulai tergoda untuk ikut menyiksa Dian. Biar bapaknya liat, apa akibatnya kalo kurang ajar sama kita!” kata si Hitam. Si hitam pun mulai mendekat dan mengelus-elus pantat Dian.“Gila nih pantat perfect banget, mulus, putih, montok, kenyal!













