Perlakuan yang sama kuterima darinya, Hana melepaskan celana jeanku. Kususuri dengan bibirku. Bokepid Wow…! ia tersenyum & menatapku sambil terus melanjutkan pengembaraannya menelusuri ‘senjataku’. Jadi kuminta ia telentang di tempat tidur, saya naik ke atas tubuhnya, tetap dalam posisi terbalik. Pertemuan kedua & selanjutnya kami semakin ‘terbuka’. Saya tak ingin buru-buru, saya ingin menikmati detik demi detik yang indah ini secara perlahan. Bukan main nikmatnya. Hana meminta saya untuk mengangkatnya sebagai “adik”, sedangkan saya diangkatnya sebagai “abang”! Satu-satunya kain yang masih tersisa. Tubuh agak bungkuk udang, mempunyai rambut panjang terurai. Sebab ia bilang, Hana tak mempunyai kakak. Saya tak menolak, sebab akupun ingin menuntaskan semuanya. Hanya saja ia bilang “dasar, abang nakal!!” saya hanya tersenyum…
Kalau sudah dibilangin begitu, maka akupun kadang lebih berani lagi.




















