Aku terbangun, tak tahunya tanganku ada di atas
dada Kak Tina, sedang tangannya menimpa tanganku itu. Bokepid Kak
Tina! Kak Tina
tak pernah lupa mengunci lemarinya. Dia baik dan suka membantuku. Jantungku berdebar kencang. Malah tangannya mulai
menyentuh kejantananku, memegang batangnya. Aku agak risih saat tangannya menyentuh kejantananku. Akupun keluar kamar, menyongsong dirinya. Sesekali aku ingin juga membaca novel lainnya, tapi Kak Tina tak
pernah mengijinkan aku menyentuh apa lagi membaca novel-novel itu. Besok-besoknya aku
tak pernah memiliki kesempatan untuk menggerayangi lemarinya. Membaca halaman
itu. Kak Tina tidak ada di rumah. Kak Tina
tetap tak sadar. Jantungku berdebar kencang. Aku tertarik untuk membacanya lagi nanti. Kak Tina nafasnya tak teratur
saat membaca bagian yang menceritakan permainan cinta Marisa dengan
beberapa laki-laki. Lalu siapa? Tangan Kak Tinapun tetap
meraba pahaku. Mana bisa.




















