I’m fine.” Kulirik jam dinding di kamar Jeanne yang samar-samar kulihat menunjukkan sekitar pukul sepuluh pagi. Bokepid Yo mendesis dan mengerang saat buah dadanya aku “kerjai”. Dia mengetahui perubahan pada diriku. Tentu saja dia menolak, tapi kupaksa karena aku sudah mata gelap. Akhirnya, dia berhasil meyakinkanku untuk “get over it” dan “get real” dengan situasiku. Yo mendesah. Pinggulnya benar-benar seperti “bodi gitar”. Begitu aku mendengar kabar ini dan aku sadar dari rasa terkejutku, aku segera berangkat ke Jakarta dengan motorku dan kularikan motorku dengan kecepatan sangat tinggi. Aku bisa merasakan hembusan napas halusnya. Aku menggerayangi tubuh Yo, dan dia tidak menolak.




















