Akhirnya aku tahu kalau yang mengantarku adalah Pak Sardjo, satpam yang biasanya masuk pagi. Aku membayangkan mungkin isinya sebesar tongkat pentungan yang selalu dibawa-bawanya saat berjaga… atau bahkan mungkin lebih besar lagi. Bokep Bahagia kan?” tanyaku membuka percakapan. “Oh ya, Pak Marsan masuk saja ke dalam soalnya hujan kan… Di luar dingin…”
“I..iya, Bu..” jawab Pak Marsan agak tergagap karena lamunannya terputus oleh undanganku tadi. Kasar dan liar…apa lagi samar-samar kucium aroma keringat Pak Marsan yang berbau khas lelaki! Tapi aku yakin kalau warnanya hitam seperti si empunya!! Kali ini posisi kami saling berhadap-hadapan dengan tubuhku ditindih tubuh kekarnya. “Su.. Gila besar sekali!! Ia memang asli Jawa dan katanya pernah menjadi preman di Pasar Senen Jakarta.




















