“Sebentar ya…”, katanya lagi sambil masuk ke dalam ruangan. Nafas laki-laki itu demikian memburu.Tak lama kemudian Pak membenamkan kepalanya di situ. Bokep Nafasku yang tinggal satu-satu bercampur dengan bunyi nafasnya yang berat. “Selamat siang, kamu siapa?”, tanyanya tanpa meninggalkan pekerjaan yang sedang dikerjakannya. “Makanya, aku takut nanti di raport merah, mata kuliah dia kan penting!, tauk nih, bentar ya aku masuk dulu!”. Lalu dengan perlahan ia mendekatiku. Berutung kali ini, aku bisa memaksanya menandatangani berkas ujian susulanku.“Masih ada mata kuliah Pengantar Berorganisasi dan Kepemimpinan”, katanya sambil membubuhkan nilai A di berkas ujianku. Sebelum kemudian dia mulai menggoyangkan pinggulnya pelan-pelan kemudian makin lama makin cepat.Aku sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap Pak Hr menggerakkan tubuhnya, gesekan demi gesekan di dinding dalam liang senggamaku sungguh membuatku lupa ingatan.




















