Namaku Kuntadi Priyambada. Jam satu, saatnya makan siang. Bokep Kalau sifat galaknya kambuh itu tanda Mbak Narsih minta. Mungkin dia jengkel karena Mas Pras nggak pulang-pulang. Pelan, pelan. Tanpa disuruh aku ikut mengupas bawang, memetik sayur dan menyiapkan bumbu yang tadi kubeli. Aku cari sisa-sisa irisan papaya tadi. Aku arahkan dari bawah air itu menyemprot lubang anusnya. Terasa lebih dalam sekarang, karena ada ruang yang lebih bebas. Kun, aku mual banget. Ingin rasanya aku menangis dan pergi dari rumah ini. Kupapah jalannya ke kamar. Aku parut lembut dan kuparamkan di perutnya. Diputar-putarnya pantatnya, sehingga aku makin kesetanan menusuk. Maklum kan manten anyar? Tengah malam, aku terjaga. Kun, kita gak bisa makan siang.











