Iapun terpaksa meminggirkan lagi mobil kami ke tepi jalan. Bokepid Lagian tak ada yang berubah pada anuku itu. “Eh ngomong-ngomong sepertinya Alfi sudah selesai mengerjakan semua perintahmu. Namun mang Gimin belum satu kali-pun muncrat. Apa yang telah ia lakukan tak berbeda dengan Lila. Aku mengangkat pinggulku seraya mencengram bungkahan pantatnya kuat-kuat dengan kedua tanganku. Menunggu pemiliknya menentukan nasib bagi duapertiga bagian sisanya. Entah apa yang ada dalam pikiranku. Apakah aku malu mengakui perasaanku kepadanya? Aku terpaksa berjalan tertatih-tatih karena rasa sakit di selangkanganku menghalangiku untuk lari. Alfi yakin sekali jika para lelaki pada bank itupun selalu diliputi ketegangan. Sadar aku benar-benar telah ternoda. “Hi hi hi..mamang… sampe segitunyaa…udahh mamang diem aja dulu.




















