dengan dada berukuran 34B. Bokep Uang kita bagai setumpuk kertas gurauan dengan angka nol berderet-deret.Pukul 2 lewat. Suasana yang hiruk-pikuk di sana bukan merupakan gangguan pada penatnya tubuhku yang bukan main, sehabis dicabik-cabik seharian oleh monster-monster kapitalis lapar itu.Memang sebagian orang menyangka hidupku enak, mungkin bukan sebagian, hampir setiap orang yang mengenalku lebih dari seminggu berpendapat demikian.Star TV di pojokan bar menampilkan balap sepeda yang tidak berujung pangkal. Sampai pagi. 2 tahun yang lalu aku pikir aku sudah terbebas darinya. Kami mengobrol panjang lebar hingga tengah malam. Entah kapan ia mengambil kunci wrenglerku. Segar. Kucium bibirnya beberapa saat. Aku tertidur.Jam 8 pagi aku terbangun. “Rick, aku harus pergi sekarang,” ia diam sejenak, “Nanti sore kau boleh telepon aku.”
“Thanks Fell,” aku berdiri mendekat, kukecup keningnya dan kutinggalkan ia.




















